masukkan script iklan disini
واَعْتصِمُواْ
بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله
عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ
فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ
شَفاَ خُـفْرَةٍ
مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ
اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ ’{ال عـمران 103}
Artinya : “Dan
berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah
kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika
kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu
maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka
Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat
ayatnya agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron ayat 103)
Asbabun Nuzul :
Diriwayatkan oleh Al-Faryabi
dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketikau kaum Aus dan
Khajraj duduk-duduk, berceritalah mereka tentang permusuhannya di jaman
jahiliyah, sehingga bangkitlah amarah kedua kaum tersebut. Masing-masing
bangkit memgang senjatanya, saling berhadapan. Maka turunlah ayat tersebut (Ali
‘Imraan: 101-103) yang melerai mereka.
Diriwayatkan oleh Ibu Ishaq dan
Abusy Syaikh, yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa seorang Yahudi yang
bernama Syas bin Qais lewat di hadapan kaum Aus dan Khajraj yang sedang
bercakap-cakap dengan riang gembira. Ia merasa benci dengan keintiman mereka,
padahal asalnya bermusuhan. Ia menyuruh seorang anak mudah anak buahnya untuk
ikut serta bercakap-cakap dengan mereka. Mulailah kaum Aus dan Khajraj
berselisih dan menyombongkan kegagahan masing-masing, sehingga tampillah Aus
bin Qaizhi dari golongan Aus dan Jabbar bin Shakhr dari golongan Khajraj saling
mencaci sehingga menimbulkan amarah kedua belah pihak. Berloncatanlah kedua
kelompok itu untuk berperang. Hal inni sampai kepada Rasulullah saw. sehingga
beliau segera datang dan memberi nasehat serta mendamaikan mereka. Mereka pun
tunduk dan taat.
Tafsir ibnu katsir
wa’tashimuu bihablillaaHi jamii’aw walaa
tafarraquu (“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah
dan janganlah kamu bercerai-berai.”) Ada yang berpendapat, “Kepada tali Allah”
berarti kepada janji Allah sebagaimana yang difirmankan-Nya pada ayat
setelahnya: dluribat ‘alaiHimudz dzillatu ainamaa tsuqifuu illaa bihablim
minallaaHi wa hablim minannaasi (“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka
berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia.”) (QS. Ali-‘Imran: 112) Yakni dengan perjanjian
dan perlindungan.
Ada yang berpendapat,
kepada tali Allah itu maksudnya adalah kepada al-Qur’an, sebagaimana disebutkan
dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Harits al-A’war, dari ‘Ali sebagai
hadits marfu’, tentang sifat al-Qur’an: “Al-Qur’an itu adalah tali Allah yang
paling kuat dan jalan-Nya yang lurus.”
Firman-Nya, wa laa
tafarraquu (“Dan janganlah kamu bercerai-berai.”) Allah memerintahkan mereka
untuk bersatu dalam jama’ah dan melarang berpecah-belah.
Banyak hadits Rasulullah
yang melarang perpecahan dan menyuruh menjalin persatuan. Sebagaimana
disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah
bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian dalam tiga perkara dan membenci
kalian dalam tiga perkara. Dia meridhai kalian jika kalian beribadah kepada-Nya
dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpegang teguh pada tali
Allah dan tidak bercerai-berai dan setia kepada orang yang telah diserahi
urusan kalian oleh Allah. Dan Dia membenci kalian dalam tiga perkara, yaitu
banyak bicara, membicarakan pembicaraan orang lain, banyak bertanya dan
menghamburkan harta.”
Dan mereka (jika
berhimpun) telah diberikan jaminan perlindungan dari kesalahan ketika mereka
bersepakat. Sebagaimana hal itu telah disebutkan pula dalam banyak hadits.
Dan yang dikhawatirkan
terhadap mereka adalah akan terjadi juga perpecahan dan perselisihan. Dan
ternyata hal itu memang terjadi pada umat ini, di mana mereka terpecah menjadi
tujuh puluh tiga golongan. Yang dari ke semua golongan itu, terdapat satu
golongan yang selamat masuk ke Surga serta selamat dari adzab Neraka, mereka
itu adalah orang-orang yang berada di atas jalan Rasulullah dan para
Sahabatnya.
Firman-Nya yang
artinya: “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika dahulu (masa
Jahiliyyah) kamu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena
nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di
tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Konteks ayat ini
berkenaan dengan kaum Aus dan Khazraj, sebab pada masa Jahiliyyah dulu, di
antara mereka telah terjadi banyak peperangan, permusuhan yang sangat parah,
rasa dengki dan dendam, yang karenanya telah terjadi peperangan dan pembunuhan
di antara mereka. Maka ketika Allah menurunkan Islam, di antara mereka pun
memeluknya, jadilah mereka bersaudara dan saling mencintai karena Allah, saling
menyambung hubungan dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Allah berfirman yang
artinya: “Allah-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan
orang-orang yang beriman dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang
beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi ini,
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah
mempersatukan Kati mereka. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfaal: 62-63)
Mereka sebelumnya
berada di tepi jurang Neraka disebabkan oleh kekufuran mereka, lalu Allah
menyelamatkan mereka dengan memberikan hidayah untuk beriman. Mereka telah
dianugerahi kelebihan oleh Rasulullah pada hari pembagian harta rampasan perang
Hunain, yaitu pada saat salah seorang di antara mereka mencela Rasul, karena
beliau melebihkan yang lain dalam pembagian sesuai dengan yang di tunjukkan
Allah kepada beliau.
Kemudian beliau berseru
kepada mereka: “Wahai kaum Anshar, bukankah aku telah mendapatkan kalian dalam
kesesatan, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku, dan
kalian sebelumnya dalam keadaan terpecah-belah, kemudian Allah menyatukan hati
kalian melalui diriku, dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah menjadikan
kalian kaya juga melalui diriku.” Setiapkali beliau mengatakan sesuatu, mereka
berucap, “Allah dan Rasul-Nya lebih dermawan.” (HR. Al-Bukhari dan Imam Ahmad)
Muhammad bin Ishaq bin
Yasar dan ulama lainnya menyebutkan bahwa: “Ayat ini turun berkaitan dengan
keadaan kaum Aus dan Khazraj. Yaitu ada seorang Yahudi yang berjalan melewati
sekumpulan orang dari kaum Aus dan Khazraj. Orang Yahudi itu merasa tidak
senang dengan keeratan dan kekompakan mereka. Kemudian ia mengirimkan seseorang
dan memerintahkannya untuk duduk bersama mereka, serta mengingatkan kembali
berbagai peperangan yang pernah terjadi di antara mereka pada peristiwa Bu’ats
dan peperangan-peperangan lainnya. Orang itu tidak henti-hentinya melakukan hal
tersebut hingga emosi mereka bangkit dan sebagian mereka murka atas sebagian
lainnya, masing-masing saling mengobarkan emosinya, meneriakkan slogan-slogan,
mengangkat senjata mereka dan saling mengancam untuk ke tanah lapang. Ketika
hal itu terdengar oleh Nabi, maka beliau datang dan menenangkan mereka seraya
berseru:
“Apakah kalian menanti
seruan Jahiliyyah padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?” Beliau pun
membacakan ayat di atas, maka mereka pun menyesali apa yang mereka lakukan. Dan
akhirnya mereka saling bersalaman, berpelukan dan meletakkan senjata.
Mudah-mudahan Allah meridhai mereka semuanya. Ikrimah menyebutkan, bahwa ayat
ini turun kepada mereka ketika mereka saling naik pitam dalam masalah berita
bohong (yang menimpa diri Aisyah ra.). Wallahu a’lam.
Sumber : Google

